Rabu, 18 Mei 2016

Tanda ?

Pemanis apa yang bisa menawarkan rasa pait yang terkecap dalam hati? tutorial youtube mana yang bisa aku simak sebagai pati rasa yang aku ikuti step by step agar aku tidak lagi menjadi kacau seperti ini. bila hukum tak melarang orang mengirup opium akankah aku bisa menghirupnya agar aku bisa bernafas, dan tiba saatnya aku menghembuskannya aku dapat melayang tanpa merasakan sakit lagi?
Ibu, mengapa kau hanya mendongengkan kisah-kisah klasik seorang putri yang berakhir happy ending? mengapa kau hanya menceritakan cerita yang berakhir dengan kata "happy ever after" menjelang tidurku? selama ini aku hanya bermimpi menjadi seorang putri yang berharap cerita itu akan menjadi kisah hidup ku juga bu? sehingga aku tidak siap untuk menerima hidup nyata ku yang seperti ini. Dimana letak ibu peri dalam dongeng Cinderela bu? atau dimana aku seharusnya tidur agar dibangunkan pangeran seperti yang dialami Aurora?
Sepertinya kisah pahit ini terlalu lama tidak seperti kisah Bawang Putih yang menghadapi ibu tiri dan Bawang Merah bu, aku ingat betul penderitaan itu tidak sampai 30 menit. apa dulu kau terlampau malas untuk menceritakan detailnya?
Maaf bu, aku bukannya menyalahkan mu atas dongeng yang kau ceritakan, harusnya kau lebih menceritakan ku kehidupan nyata, agar aku lebih siap menghadapinnya, bu.

Selasa, 17 Mei 2016

Mendalami 3 Buku Semiotika Danesi, Roland Barthes, Alex Sobur

·        Pesan, Tanda, dan Makna
Semiotika merupakan suatu ilmu atau metode analisis unuk mengkaji tanda, tanda yang dimaksudkan merupakan perangkat yang biasa digunakan oleh masyarakat dalam upaya mempelajari kehidupan (Sobur, 2013).
Di dalam bukunya yang berjudul Messages, Signs, and Meanings: A Basic Textbook in Semiotics and Communication (Studies in Linguistic and Cultural Anthropology) 3rd Ed, Danesi memberikan gambaran mengenai definisi semiotika sebagai ilmu yang mencoba menjawab pertanyaan yang dimaksud dengan “X” yang dapat berupa apapun, mulai dari sebuah kata atau isyarat hingga keseluruhan komposisi musik atau film, yang memiliki jangkauan yang bias bervariasi, tetapi sifat dasar yang merumuskanya tidak (Danesi, 2004).

Dalam buku yang sama, Danesi juga menyebutkan bahwa simbol merupakan tanda yang mewakili objeknya melalui kesepakatan atau persetujuan bersama dengan konteks yang spesifik. Dengan kata lain, semiotik mencoba untuk melakukan sebuah penarikan kesimpulan akan tetapi bersifat interpretatif yaitu tidak akan selalu sama atas apa yang diartikan dengan apa yang akan di bahas secara lain, karena dalam semiotik terdapat makna yang denotatif dan juga terdapat makna yang konotatif.

Rolland Barthes (dalam buku karya Sobur, 2013) menjelaskan bahwa tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang menelaah tanda secara bahasa sehingga menjadi landasan keberadaannya.

Suatu tanda akan menandakan sesuatu diluar dirinya sendiri yang akan menghasilkan hubungan antara suatu objek atau idea dan suatu tanda yang akan menghailkan makna atau meaning (Danesi, 2004). Dengan tanda, manusia akan berusaha untuk menguraikan aturan-aturan yang ada disekitarnya.

Memahami Semiotika tentu tidak bisa melepaskan pengaruh dan peran dua orangpenting ini: Charles Sander Pierce dan Ferdinand De Saussure. Keduanya meletakkan dasar-dasar bagi kajian semiotika. Pierce dikenal sebagai pemikir argumentatif dan filsuf Amerika yang paling original dan multidimensional.

Danesi (2004) menjelaskan bahwa Ferdinand de Saussure dan Charles S. Peirce adalah pendiri teori semiotik kontemporer dan praktek. Keduanya membuat kerangka dasar untuk menggambarkan dan mengklasifikasikan tanda-tanda, serta untuk menerapkan semiotika untuk mempelajari sistem pengetahuan dan budaya. Semenjak mahasiswa, pada tahun 1879 Saussure menerbitkan bukunya, yang berjudul Mkmoire sur le systkine primitifdes Voyelles dans les langues Indo europkennes atau yag diartikan memori tentang sistem vokal asli dalam bahasa Indo-Eropa, karya penting pada sistem vokal Proto-Indo-Eropa, yang dianggap sebagai bahasa induk dari petikan bahasa Indo-Eropa turun. Saussure mengajar di Ecole des Hautes Etudes di Paris dari 188 1-189 1 dan kemudian menjadi profesor bahasa Sansekerta dan Perbandingan Grammar di University of Geneva. Meskipun ia tidak pernah menulis buku lain, mengajar terbukti sangat berpengaruh. Saussure menggambarkan tanda sebagai struktur biner, yaitu sebagai struktur terdiri dari dua bagian:

(1) bagian fisik, yang disebutnya penanda

 (2) bagian konseptual, yang disebut signified.

Sedangkan Peirce menbagi tanda menjadi tiga istilah yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang berdiri untuk rujukan melalui beberapa bentuk replikasi, simulasi, imitasi, atau kemiripan. Suara simbolisme adalah contoh ikonisitas dalam bahasa. Indeks adalah tanda yang berdiri untuk rujukan dengan menunjuk ke sana atau dengan menghubungkannya (secara eksplisit atau implisit) untuk referen lain. Manifestasi dari indexicality termasuk jari telunjuk menunjuk, kata keterangan seperti di sana-sini, dan diagram yang dikenal sebagai peta. Simbol adalah tanda bahwa singkatan objeknya oleh konvensi atau kesepakatan dalam konteks tertentu. Misalnya, mawar adalah simbol cinta dalam beberapa kebudayaan; huruf d berdiri, dengan kesepakatan antara matematika dunia, untuk jumlah 3,14; dan seterusnya. Ikonisitas merupakan upaya untuk mensimulasikan sifat sensori yang dirasakan dalam hal. Indexicality merupakan strategi untuk mengacu pada keberadaan dan lokasi objek dalam ruang-waktu. Dan simbolisme adalah hasil dari konvensi, perjanjian, atau pakta historical dan sosial (Danesi, 2004).

·       Mhytologies

Roland Barthes merupakan tokoh pemikir srukturalis yang berpendapat bahwa bahasa merupakan sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu (Barthes, 1991). Dalam buku berjudul Mhytologies Barthes mengangkat bab-bab yang dapat dibilang sebagai hal yang remeh yaitu bab berisi tentang hasil perenungannya mengenai penari perut, Citroen tipe terbaru, busa ditergen,wajah Greta Grabo, mainan, Wine dan susu, dan hal remeh lainnya.

Dalam buku ini Barthes menjelaskan secara panjang lebar dan mengulas apa yang sering disebut dengan sistem pemaknaan tataran ke- dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya atau disebutnya dengan istilah konotasi di dalam bukunya Barthes, secara tegas membedakan dengan sistem pemaknaan tataran pertama (Sobur, 2013).

 Konsep  ini hampir mirip dengan kosep yang dicetuskan oleh Saussure akan tetapi Barthes menyempurnakan dengan tidak hanya berhenti pada tataran denotasi. Barthes berusaha menolak sesuatu yang bersifat ilmiah dari denotasi. Baginya konotasi identik dengan ideologi yang disebutnya sebagai mitos (Sobur, 2013). Mitos disiniberfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan kebenaran bagi nilai-nilai yang dominan dalam suatu periode tertentu ( Budiman, 2001).

(Roland Barthes)

Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimesi yaitu penanda, pertanda, dan tanda oleh karena itu mitos termasuk dalam sistem pemaknaan tataran ke- dua (Barthes, 1991). Alasan Barthes memunculkan mitos karena seperti halnya Marx, Ia juga memahami ideologi sebagai kesadaran palsu yang membuat orang hidup di dalam dunia yang imajiner dan ideal, walaupun secara realistas tidak demikian. Di akhir bab pada bukunya Barthes memperjelas alasannya untuk menyematkan mitos ke dalam pemikirannya mengenai tanda yaitu tentang kesadaran palsu yang diberikan kaum borjuis kepada kaum minoritas.
·       Semiotika Komunikasi
Dalam kajian komunikasi, semiotika merupakan ilmu penting, sebab tanda-tanda (signs) merupakan basis utama dari seluruh komunikasi, karena dengan tanda-tanda manusia dapat melakukan komunikasi apapun dengan sesamanya (Sobur, 2013, h.15)
 “Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisisuntuk mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah peringkat yang kita pakai dalam upaya mencari jalan di dunia ini. Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanyamembawa informasi tetapi dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda” (Sobur, 2013, h.15)
     Dalam bukunya, Alex Sobur mengangkat perbincangan mengenai semiotika sebagai ilmu. Menurutnya, ada semacam ruang kontradiksi yang dibangun oleh dua kubu semiotika kontinental yang dicetuskan oleh tokoh Ferdinand de Saussure dan semiotika Amerika yang dibawa oleh Charles Sander Peirce. Sobur berusaha membandingkan semiotika yang ditulis sebagai hasil dari pembacaan ulang oleh tokoh-tokoh ahli semiotika terhadap dua kubu tersebut.
Umberto Eco (dalam Sobur 2013) menegaskan bahwa semiotika adalah teori dusta. Eco mengatakan bahwa pada prinsipnya semiotika adalah sebuah disiplin ilmu yang digunakan untuk berdusta.
Dalam perkembangannya, kajian semiotika berkembang kepada dua klasifikasi utama, yakni semiotika komunikasi dan semiotika signifikasi. Semiotika komunikasi menekankan pada teori tentang produksi tanda yang salah satu di antaranya mengasumsikan adanya enam faktor dalam komunikasi (pengirim, penerima, pesan, saluran dan acuan). Sedangkan semiotika signifikasi memberikan tekanan pada teori tanda dan pemahamannya dalam suatu konteks tertentu (Sobur, 2013, h. 15). Di sinilah munculnya berbagai cabang kajian semiotika seperti semiotika binatang (zoomsemiotics), semiotika medis (medicals semiotics) dan lain-lain, yang mana menurut Eco (1979) mencapai 19 bidang kajian ( Sobur, 2013, h.109).
Berikut ini adalah gambaran singkat penerapan analisis semiotika dalam berbagai bidang dan objek kajiannya dalam disiplin ilmu komunikasi, yang meliputi pemberitaan media massa, komunikasi periklanan, tanda-tanda nonverbal, film, komik-kartun, sastra, dan musik (Sobur, 2013, h. 106).
1.      Media
Pada dasarnya, studi media masa mencakup pencarian pesan dan makna dalam materi (isiteks), karena sesungguhnya semiotika komunikasi –seperti halnya basis studi komunikasi-, adalah proses komunikasi yang intinya adalah mencari makna. Dengan kata lain, kita mempelajari media adalah untuk mempelajari makna - dari mana asalnya, seperti apa, apa tujuannya, bagaimana disampaikan, dan bagaimana kita (pembaca) memberikan (menafsirkan) maknanya (Sobur, 2013, h. 110).
Dalam media cetak, kajian semiotika juga kebanyakan mengusut ideologi yang melatar-belakangi pemberitaan media.
Pertanyaan utama ketika akan mengaplikasi pendekatan semiotika komunikasi dalam mengkaji media adalah bagaimana isi media harus dijelaskan? Atau, ketika media memberitakan suatu peristiwa dengan orientasi tertentu, bagaimana kita menjelaskannya? Disinilah McNeir (1994 dalam Sobur 2013) memberikan beberapa pendekatan utama, yakni:
1.      Pendekatan politik-ekonomi (the political-economiy approach),
2.      pendekatan organisasi (organizational approach) dan pendekatan budaya (culturalist approach).
3.      Pendekatan politik-ekonomi berpendapat bahwa isi media lebih ditentukan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik di luar pengelolaan media (faktor eksternal). Kekuatan tersebut antaranya adalah pemilik media, pemodal, dan pendapatan media. Faktor inilah yang dipercayai lebih menentukan mengenai berita/peritiwa apa yang bisa dan tidak bisa ditampilkan/diberitakan dalam media.
4.      Pendekatan organisasi berpendapat kebalikan dari politik ekonomi di atas. Pendekatan ini berpandangan bahwa organisasi pengelola medialah yang menentukan proses pembentukan dan produksi berita melalui praktek kerja, professionalisme, tata aturan organisasi dan mekanisme yang ada di ruang redaksi (paktor internal). Ideologi media merupakan bagian dari paktor ini, dimana ia akan tercermin dalam keseluruhan nilai yang dijadikan landasan kerja organisasi pengelola media. Ideologi media itu pulalah pada akhirnya akan menjadi acuan dan nilai dasar bagi semua pengelola (organisasi media) dalam menentukan (memilih) berita mana yang layak dan tidak layak diterbitkan, dalam bentuk apa dan cara yang bagaimana sebuah berita harus dipublikasikan, dst. Di sinilah media lebih banyak tampil sebagai “perumus realitas” (definer of reality) sebagaimana ideologi yang melandasinya, ketimbang menjadi “cermin realitas” (mirror of reality) (Sobur, 2013)

5.      Pendekatan budaya berpendapat bahwa pemberitaan media ditentukan oleh kedua-dua faktor di atas (eksternal dan internal) secara bersamaan. Media pada dasarnya mempunyai mekanisme untuk menentukan pola dan aturan organisasi, tetapi dengan berbagai pola tersebut dalam memaknai peristiwa tidak dapat dilepaskan dari kekuatan-kekuatan politik-ekonomi di luar media.
Melalui tanda (sign), analisis semiotika pada media juga melihat bagaimana huhungan pemilik media dengan konstruk sosial (realitas) yang dibangun memalui pemberitaan media. Secara teoritis, media massa bertujuan menyampaikan informasi dengan benar secara efektif dan efisien. Akan tetapi pada prakteknya, seringkali apa yang disebut sebagai kebenaran itu ditentukan oleh jalinan banyak kepentingan survival media itu sendiri, baik dalam pengertian bisnis maupun politis.
2. Komunikasi Periklanan
Untuk mengkaji iklan dalam perpektif semiotika, iklan dapat dikaji melalui sistem tanda iklan yang terdiri atas lambang baik secara verbal maupun non verbal (Sobur, 2013). Lambang verbal merupakan gaya bahasanya sedangkan lambang nonverbal adalah warna yang disajikan pada iklan.

3. Musik
Apa yang dapat kita kaji pada musik yang menganut sistem tanda auditif.  Zoest (1993, dalam Sobur, 2013) memberikan tiga kemungkinan cara dalam melalukan analisis semiotika pada musik.
1.    Pertama, untuk menganggap unsur-unsur struktur musik sebagai ikonis bagi gejala-gejala neurofisiologis pendengar. Dengan demikian, irama musik dapat dihubungkan dengan ritme biologis.
2.     Kedua, untuk menganggap gejala-gejala struktural dalam musik sebagai ikonis bagi gejala-gejala struktural dunia penghayatan yang dikenal.
3.    Ketiga, untuk mencari denotatum musik ke arah isi tanggapan dan perasaan yang dimunculkan musik lewat indeksikal.
Bagi Zoest, sifat indeksikal tanda musik ini merupakan kemungkinan yang paling penting, sebab simbolitas juga wujud dalam musik, baik menyangkut jenis, historisitas, maupun gaya senantiasa menjadi bagian yang kompleks yang diekspresikan dalam musik. Melalui tanda (sintak, semantic dan ekspressif), kita bukan hanya dapat mengenali pesan/makna yang disampaikan dalam musik, akan tetapi juga dapat mengenali perasaan seseorang (kebahagian, kesedihan, dan sebagainya) melalui musik.  Sebagai satu proses simbolik, Marriam (dalam Sobur 2013) menekankan pentingnya studi tentang fungsi musik dalam masyarakat. Menurutnya, simbolisme musik dan fungsinya dapat dikaji melalui aspek instrumentation, word of songs, native typology and classification of music, role and status of musicians, function of music in relation to other aspect of culture and music as creative activity (Bandem, 1981 dalam Sobur, 2013, h. 147). Selain beberapa hal di atas Sobur juga menjelaskan aplikasi semiotika dalam bidang satra dan komik.
Sobur (2013) berpendapat bahwa setiap teks yang dihasilkan media ada berbagai kepentingan ideologiantara masyarakat dan negara. Dalam diri media massa juga ada kepentingan kepentingan yang terselubung seperti kepentingan pemilik modal kepentingan keberlangsungan lapangan kerja bagi para wartawan, karyawan dan sebagainya.

Daftar Pustaka

Barthes, R. (1972). Membedah mitos-mitos budaya massa. Jakarta: Jalasutra
Danesi, M., & Danesi, M. (2004). Messages, signs, and meanings: A basic textbook in semiotics and communication. Toronto: Canadian Scholars' Press.

Sobur, A. (2013). Semiotika komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Minggu, 15 Maret 2015

Metode Penelitian Kuantitatif

                                                                                                Nama   : Vivie Anggra Kusuma
                                                                                                NIM    : 135120201111001

Kriyantono (2014 h. 203) dengan judul bab Tumpang Tindih Bidang Komunikasi menjelaskan bahwa “riset komunikasi bukan berarti bersifat mutual exclusive (terpisah secara jelas)”. Dengan kata lain, seseorang bisa saja menggunakan satu teori dalam beberapa kajian riset komunikasi. Misalnya, teori Model Uses & Gratifications dapat digunakan seseorang untuk meleakukan riset motif dan kepuasaan menonton televisi pada khalayak luas (komunikasi massa), juga dapat digunakan oleh praktisi public relations untuk melakukan riset terhadap motif dan kepuasaan karyawan dalam membaca buletin yang diterbitkan perusahaan (Kriyantono 2014).
 Kriyantono (2014) menjelaskan bahwa seperti yang kita ketahui sebelumnya, seseorang dapat melakukan riset komunikasi yang begitu banyak jenisnya yaitu dengan mengkaji dari beberapa sisi  antara lain komunikator, isi pesan, media, dan komunikan atau dengan mengkaji efek dari proses komunikasi itu sendiri, serta dengan adanya berbagai tingkatan komunikasi antara lain : komunikasi antar pribadi (interpersonal), kelompok,organisasi maupun komunikasi massa atau media massa dengan bidang  komunikasi meliputi media massa seperti jurnalistik, dan broacasting , periklanan, publik relations, komunikasi pemasaran, perilaku konsumen, dan lain sebagainya. berbagai bidang komunikasi sangat sulit untuk dipisahkan secara jelas antara komunikasi massa, public relations, dan lain-lain. Hal tersebut disebabkan oleh perkembangan masyarakat dan perkembangan teknologi komunikasi ( Kriyantono 2014).
Berikut ini merupakan varian penelitian komunikasi, antara lain:
1.      Model Agenda Setting
a.       Pengertian :
Teori Agenda Setting ditemukan pada tahun 1968 oleh McComb dan Donald L. Griffin (dalam buku Kriyantono, 2014, h.224) menjelaskan bahwa teori Agenda Setting ini berasumsi “khalayak akan menganggap suatu isu itu penting karena media menggap isu itu penting”. Pada awal perkembangannya, kebanyakan riset agenda setting merupakan jenis riset murni kuantitatif yang mana berbagai konsep angenda media dan agenda publik dioperasionalkan sebagai urutan berbagai isu yang diberitakan oleh media massa dan berbagai urutan isu yang dianggap penting oleh publik, namun dalam perkembangannya, teori ini dilengkapi dengan studi kualitatif dengan fokus teori pada perilaku kognitif yaitu kesadaran dan pengetahuan (Kriyantono, 2014).
Littlejohn & Foss (dalam Kriyantono, 2014) menjelaskan tentang fungsi agenda setting merupakan proses linier yang terdiri dari tiga bagian yang apabila riset menggunakan model agenda setting ini harus mengaji ketika hal ini, yaitu antara lain:
1.      Agenda media harus disusun oleh awak media,
2.      Agenda media mempengaruhi atau berinteraksi dengan agenda publik,
3.      Agenda kebijakan merupakan apa yang dipikirkan oleh pembuat kebijakan dipikirkan pula oleh publik.
Model agenda setting mempunyai berbagai dimensi seperti yang dijelaskan oleh Severin & Tankard (dalam buku Kriyantono, 2014 h.225) antara lain:
1.    Agenda Media, dengan dimensi:
a.       Visibialitas yaitu jumlah dan tingkat menonjolkan berita
b.      Tingkat menonjol bagi khalayak, yaitu relevansi isi media dengan kebutuhan khalayak.
c.       Valensi, yakni menyenangkan atau tidaknya cara pemberitaan bagi suatu peristiwa.
2.       Agenda Publik, dengan dimensi antara lain:
a.       Keakraban, yakni derajat kesadaran khalayak akan topik tertentu.
b.      Penonjolan pribadi, yakni relevansi kepentingan individu dengan ciri pribadi
c.       Kesenangan, yakni pertimbangan senang atau tidaknya akan topik berita.
3.      Agenda Kebijakan . dengan dimensi berikut ini:
a.       Dukungan yakni kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu.
b.      Kemungkinana kegiatan, yakni kemungkinan pemerintah melaksanakan apa yang diibaratkan.
c.       Kebebasan bertindak, yakni nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintahan.
Kriyantono (2014) Agenda Publik (khalayak) dapat diukur melalui beberapa cara, antara lain :
1.      Meminta self-report khalayak tentang topik-topik apa yang dianggap penting oleh responden, baik itu berdasarkan komunikasi interpersonal, atau komunikasi interpersonal responden.
2.      Responden diminta mengisi isu-isu apa yang penting ke dalam daftar isu-isu yang disediakan peneliti.
3.      Variasi dari dua cara di atas yaitu dengan memveri daftar topik yang diseleksi peneliti dan responden diminta membuat urutan ranking mengenai penting atau tidaknya suatu isu menurut persepsi responden
4.      Cara paired-comparison yakni setiap isu yang diseleksi sebelumnya dipasangkan dengan setiap isu yang lain dan responden diminta mengenal setiap pasang san mengidentifikasikan isu mana yang lebih penting.
5.      Variabel anatara dan efek lanjutan ini adalah variabel yang berpontensi mempengaruhi agenda publik.

b.      Alasan mengapa teori ini penting untuk diteliti adalah untuk meneliti pengaruh agenda media terhadap agenda publik.

c.       Cara meneliti berikut contohnya
Kriyantono (2014, h.228) menjelaskan tahapan proses riset agenda setting antara lain sebagai berikut:
1.      Menentukan permasalahan
Contoh                        : “Apakah ada hubungan antara agenda media dan agenda publik terhadap Pemilu 2014?”
2.      Menentukan kerangka pemikiran (kerangka Teori)
Contoh : - hipotesis teoritis : ada hubungan antara agenda media dan agenda publik terhadap Pemilu 2014.
-  Definisi konseptual :
a.       Agenda media            = isu yang memperoleh penonjolan dalam media.
b.      Agenda publik            =  isu yang dinilai publik sebagai isu yang penting.
c.       Isu                               = kumulasi dari beberapa berita yang dimuat secara berseri
3.      Menentukan metodologi, unit populasi, sampel, dan metode pengukuran.
Contoh                        : Definisi oprasional :
- agenda media         = ranking isu yang diberitakan Vivanews berdasarkan frekuensi pemberitaan mengenai Prabowo.
- Agenda Publik  = ranking isu yang dinilai penting oleh publik Vivanews.
4.      Merumuskan  Hipotesis Riset
Contoh                : semakin tinggi ramking isu tentang Prabowo di pemberitaan Vivanews semakin tinggi pula ranking isu yang bersangkutan dalam penilaian khalayak, begitu pun sebaliknya.
5.      Menentukan Metode Pengumpulan Data
Contoh            : dokumentasi dan survey khalayak kuesioner.
6.      Menentukan metode Analisis
Contoh              : mengunakan metode eksplanatif karena menjelaskan hubungan antara dua variabel.
Untuk menguji data ordinal digunakan rumus Spearman’s Rho Rank-Oder Correlation.
Keterangan      :          
d = selisih anatara pasangan ranking
N= jumlah isu yang diamati
                       
2.      Model Uses & Gratifications
a.       Pengertian
Kriyantono (2014, h. 208) menjelaskan bahwa “inti Teori Uses & Gratifications khalayak pada dasarnya menggunakan media massa berdasarkan motif-motif tertentu”. Elemem pada teori Uses & Gratifications ini berkaitan dengan media explosure karena mengacu pada kegiatan mengguanakan media yang bukan hanya sekedar menyangkut kedekatan seseorang secara fisik dengan media massa tetapi lebih kepada keterbukaan seseorang terhadap isi (pesan) dari media tersebut (Kriyantono 2014).
Littlejohn (1996 dalam buku Kriyantono h.211) menjelaskan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kepercayaan  masyarakat terhadap isi media antara lain:
1.      Budaya dan institusi sosial
2.      Keadaan sosial
3.      Variabel psikologis tertentu ; introvert – ekstrovet dan dogmatisme
Kriyantono (2014, h. 211) Nilai- nilai dipengaruhi oleh :
1.      Faktor sosial dan kultural
2.      Kebutuhan
3.      Variabel psikologis
b.      Alasan teori Uses & Gratifications penting untuk diteliti adalah mengetahui kepuasaan suatu penggunaan media terhadap isi media yang digunakan untuk memperoleh berbagai kebutuhan akan informasi.
c.       Cara meneliti berikut contohnya
Kriyantono (2014, h. 213) menjelasan tahapan proses riset mengunakan teori Uses & Gratifications antara lain:
BAB I PENDAHULUAN
1.      Menentukan latar belakang masalah
2.      Merumuskan masalah
3.      Menentukan tujuan penelitian
4.      Menentukan manfaat penelitian
a.       Manfaat praktis
b.      Manfaat teoritis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1.      Menyampaikan hasil tinjuan pustaka (litratur review)
2.      Menetukan hipotesis teoritis
BAB III METODOLOGI
1.      Menentukan pendekatan dan metode riset
2.      Menentukan oprasionalisasi konsep
3.      Menentukan hipotesis riset
4.      Menetukan populasi, sampel, dan teknik penarikan sampel

3.      Content Analysis
a.       Pengertian
Wimmer & Dominick (2000 dalam buku Kriyantono 2014, h. 232) menjelaskan bahwa “analisis isi adalah suatu metode untuk mempelajari dan menganalisis komunikasi secara sistematis, objektif, dan kuantitatif terhadap pesan yang tampak”.
Berdasarkan definisi di atas prinsip analisis isi antara lain (Kriyantono, 2014, h. 233) :
1.      Prinsip sistematis               = ada perlakuan prosedur yang sama pada semua isi yang dianalisis
2.      Prinsip objektif                  = hasil analisis tergantung pada prosedur riset bukan pada orangnya.
3.      Prinsip kuantitatif             = mencatat nilai-nilai bilangan atau frekuensi untuk melakukan jenis isi yang didefinisikan.
4.      Prinsip isi yang nyata        = riset dan analisis berdasarkan isi yang tersurat bukan yang dirasakan periset
b.      Tujuan penggunaan analisis isi
McQuail (2000 dalam buku Kriyantono, 2014, h. 233) menjelaskan beberapa tujuan analisi isi antara lain:
1.      Mendeskripsikan dan membuat perbandingan terhadap isi media
2.      Membuat perbandingan antara isi media dengan relaitas sosial
3.      Isi media merupakan refleksi daeri nilai-nilai sosial dan budaya serta sistem kepercayaan masyarakat
4.      Mengetahui fungsi dan efek media
c.       Tahapan dalam analisis isi
1.      Menentukan masalah
2.      Menyusun kerangka konseptual untuk riset deskriptif (suatu konsep), atau kerangka teori eksplanasi (lebih dari satu konsep)
3.      Menyusun perangkat metodologi










Daftar Pustaka

Kriyantono, R. (2014). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana Prenadamedia

























Masalah               :“apakah ada hubungan antara sikap pemilih terhadap parpol dengan sikap orang tua terdadap parpol?”
Instrumen            : sikap orang tua saya terhadap PAN
a.       SS
b.      S
c.       CS
d.      TS
e.       STS
Sampel                        : dipilih 100 siswa SMU
Jawab : Riset tersebut tidak valid karena ada dua alasan.
1.      Instrumen /kuesioner tidak sesuai dengan apa yang akan diukur atau diukur, karena kuesioner menanyakan sikap orang tua akan tetapi ditanyakan kepada anaknya.
2.      Sampel seharusnya mewakili remaja dan orang tua.

Daftar Pustaka

Kriyantono, R. (2014). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana Prenadamedia