Nama : Vivie Anggra Kusuma
NIM : 135120201111001
Kriyantono
(2014 h. 203) dengan judul bab Tumpang Tindih Bidang Komunikasi menjelaskan
bahwa “riset komunikasi bukan berarti bersifat mutual exclusive (terpisah secara jelas)”. Dengan kata lain, seseorang
bisa saja menggunakan satu teori dalam beberapa kajian riset komunikasi.
Misalnya, teori Model Uses &
Gratifications dapat digunakan seseorang untuk meleakukan riset motif dan
kepuasaan menonton televisi pada khalayak luas (komunikasi massa), juga dapat
digunakan oleh praktisi public relations
untuk melakukan riset terhadap motif dan kepuasaan karyawan dalam membaca
buletin yang diterbitkan perusahaan (Kriyantono 2014).
Kriyantono (2014) menjelaskan bahwa seperti
yang kita ketahui sebelumnya, seseorang dapat melakukan riset komunikasi yang
begitu banyak jenisnya yaitu dengan mengkaji dari beberapa sisi antara lain komunikator, isi pesan, media, dan
komunikan atau dengan mengkaji efek dari proses komunikasi itu sendiri, serta
dengan adanya berbagai tingkatan komunikasi antara lain : komunikasi antar
pribadi (interpersonal), kelompok,organisasi maupun komunikasi massa atau media
massa dengan bidang komunikasi meliputi
media massa seperti jurnalistik, dan broacasting
, periklanan, publik relations, komunikasi
pemasaran, perilaku konsumen, dan lain sebagainya. berbagai bidang komunikasi
sangat sulit untuk dipisahkan secara jelas antara komunikasi massa, public relations, dan lain-lain. Hal
tersebut disebabkan oleh perkembangan masyarakat dan perkembangan teknologi komunikasi
( Kriyantono 2014).
Berikut
ini merupakan varian penelitian komunikasi, antara lain:
1.
Model
Agenda Setting
a.
Pengertian
:
Teori
Agenda Setting ditemukan pada tahun 1968 oleh McComb dan Donald L. Griffin
(dalam buku Kriyantono, 2014, h.224) menjelaskan bahwa teori Agenda Setting ini
berasumsi “khalayak akan menganggap suatu isu itu penting karena media menggap
isu itu penting”. Pada awal perkembangannya, kebanyakan riset agenda setting
merupakan jenis riset murni kuantitatif yang mana berbagai konsep angenda media
dan agenda publik dioperasionalkan sebagai urutan berbagai isu yang diberitakan
oleh media massa dan berbagai urutan isu yang dianggap penting oleh publik,
namun dalam perkembangannya, teori ini dilengkapi dengan studi kualitatif
dengan fokus teori pada perilaku kognitif yaitu kesadaran dan pengetahuan
(Kriyantono, 2014).
Littlejohn
& Foss (dalam Kriyantono, 2014) menjelaskan tentang fungsi agenda setting
merupakan proses linier yang terdiri dari tiga bagian yang apabila riset
menggunakan model agenda setting ini harus mengaji ketika hal ini, yaitu antara
lain:
1.
Agenda
media harus disusun oleh awak media,
2.
Agenda
media mempengaruhi atau berinteraksi dengan agenda publik,
3.
Agenda
kebijakan merupakan apa yang dipikirkan oleh pembuat kebijakan dipikirkan pula
oleh publik.
Model
agenda setting mempunyai berbagai dimensi seperti yang dijelaskan oleh Severin
& Tankard (dalam buku Kriyantono, 2014 h.225) antara lain:
1.
Agenda
Media, dengan dimensi:
a.
Visibialitas
yaitu jumlah dan tingkat menonjolkan berita
b.
Tingkat
menonjol bagi khalayak, yaitu relevansi isi media dengan kebutuhan khalayak.
c.
Valensi,
yakni menyenangkan atau tidaknya cara pemberitaan bagi suatu peristiwa.
2.
Agenda Publik, dengan dimensi antara lain:
a.
Keakraban,
yakni derajat kesadaran khalayak akan topik tertentu.
b.
Penonjolan
pribadi, yakni relevansi kepentingan individu dengan ciri pribadi
c.
Kesenangan,
yakni pertimbangan senang atau tidaknya akan topik berita.
3.
Agenda
Kebijakan . dengan dimensi berikut ini:
a.
Dukungan
yakni kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu.
b.
Kemungkinana
kegiatan, yakni kemungkinan pemerintah melaksanakan apa yang diibaratkan.
c.
Kebebasan
bertindak, yakni nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintahan.
Kriyantono
(2014) Agenda Publik (khalayak) dapat diukur melalui beberapa cara, antara lain
:
1.
Meminta
self-report khalayak tentang
topik-topik apa yang dianggap penting oleh responden, baik itu berdasarkan
komunikasi interpersonal, atau komunikasi interpersonal responden.
2.
Responden
diminta mengisi isu-isu apa yang penting ke dalam daftar isu-isu yang
disediakan peneliti.
3.
Variasi
dari dua cara di atas yaitu dengan memveri daftar topik yang diseleksi peneliti
dan responden diminta membuat urutan ranking mengenai penting atau tidaknya
suatu isu menurut persepsi responden
4.
Cara
paired-comparison yakni setiap isu
yang diseleksi sebelumnya dipasangkan dengan setiap isu yang lain dan responden
diminta mengenal setiap pasang san mengidentifikasikan isu mana yang lebih
penting.
5.
Variabel
anatara dan efek lanjutan ini adalah variabel yang berpontensi mempengaruhi
agenda publik.
b.
Alasan
mengapa teori ini penting untuk diteliti adalah untuk meneliti pengaruh agenda
media terhadap agenda publik.
c.
Cara
meneliti berikut contohnya
Kriyantono (2014, h.228) menjelaskan
tahapan proses riset agenda setting antara lain sebagai berikut:
1.
Menentukan
permasalahan
Contoh : “Apakah ada hubungan
antara agenda media dan agenda publik terhadap Pemilu 2014?”
2.
Menentukan
kerangka pemikiran (kerangka Teori)
Contoh : - hipotesis teoritis : ada
hubungan antara agenda media dan agenda publik terhadap Pemilu 2014.
-
Definisi
konseptual :
a.
Agenda
media = isu yang memperoleh
penonjolan dalam media.
b.
Agenda
publik = isu yang dinilai publik sebagai isu yang
penting.
c.
Isu = kumulasi dari
beberapa berita yang dimuat secara berseri
3.
Menentukan
metodologi, unit populasi, sampel, dan metode pengukuran.
Contoh : Definisi oprasional :
- agenda media = ranking isu yang diberitakan Vivanews berdasarkan
frekuensi pemberitaan mengenai Prabowo.
- Agenda Publik = ranking isu yang dinilai penting oleh
publik Vivanews.
4.
Merumuskan Hipotesis Riset
Contoh : semakin tinggi ramking isu
tentang Prabowo di pemberitaan Vivanews semakin tinggi pula ranking isu yang
bersangkutan dalam penilaian khalayak, begitu pun sebaliknya.
5.
Menentukan
Metode Pengumpulan Data
Contoh
: dokumentasi dan survey
khalayak kuesioner.
6.
Menentukan
metode Analisis
Contoh :
mengunakan metode eksplanatif karena menjelaskan hubungan antara dua variabel.
Untuk
menguji data ordinal digunakan rumus Spearman’s
Rho Rank-Oder Correlation.
Keterangan :
d
= selisih anatara pasangan ranking
N=
jumlah isu yang diamati
2.
Model
Uses & Gratifications
a.
Pengertian
Kriyantono
(2014, h. 208) menjelaskan bahwa “inti Teori Uses & Gratifications khalayak pada dasarnya menggunakan media
massa berdasarkan motif-motif tertentu”. Elemem pada teori Uses & Gratifications ini berkaitan dengan media explosure karena mengacu pada kegiatan
mengguanakan media yang bukan hanya sekedar menyangkut kedekatan seseorang
secara fisik dengan media massa tetapi lebih kepada keterbukaan seseorang
terhadap isi (pesan) dari media tersebut (Kriyantono 2014).
Littlejohn
(1996 dalam buku Kriyantono h.211) menjelaskan beberapa faktor yang berpengaruh
terhadap kepercayaan masyarakat terhadap
isi media antara lain:
1.
Budaya
dan institusi sosial
2.
Keadaan
sosial
3.
Variabel
psikologis tertentu ; introvert –
ekstrovet dan dogmatisme
Kriyantono (2014, h. 211) Nilai- nilai
dipengaruhi oleh :
1.
Faktor
sosial dan kultural
2.
Kebutuhan
3.
Variabel
psikologis
b.
Alasan
teori Uses & Gratifications penting
untuk diteliti adalah mengetahui kepuasaan suatu penggunaan media terhadap isi
media yang digunakan untuk memperoleh berbagai kebutuhan akan informasi.
c.
Cara
meneliti berikut contohnya
Kriyantono
(2014, h. 213) menjelasan tahapan proses riset mengunakan teori Uses & Gratifications antara lain:
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Menentukan
latar belakang masalah
2.
Merumuskan
masalah
3.
Menentukan
tujuan penelitian
4.
Menentukan
manfaat penelitian
a.
Manfaat
praktis
b.
Manfaat
teoritis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1.
Menyampaikan
hasil tinjuan pustaka (litratur review)
2.
Menetukan
hipotesis teoritis
BAB III METODOLOGI
1.
Menentukan
pendekatan dan metode riset
2.
Menentukan
oprasionalisasi konsep
3.
Menentukan
hipotesis riset
4.
Menetukan
populasi, sampel, dan teknik penarikan sampel
3.
Content Analysis
a.
Pengertian
Wimmer
& Dominick (2000 dalam buku Kriyantono 2014, h. 232) menjelaskan bahwa “analisis
isi adalah suatu metode untuk mempelajari dan menganalisis komunikasi secara
sistematis, objektif, dan kuantitatif terhadap pesan yang tampak”.
Berdasarkan
definisi di atas prinsip analisis isi antara lain (Kriyantono, 2014, h. 233) :
1.
Prinsip
sistematis = ada perlakuan
prosedur yang sama pada semua isi yang dianalisis
2.
Prinsip
objektif = hasil analisis
tergantung pada prosedur riset bukan pada orangnya.
3.
Prinsip
kuantitatif = mencatat
nilai-nilai bilangan atau frekuensi untuk melakukan jenis isi yang
didefinisikan.
4.
Prinsip
isi yang nyata = riset dan analisis
berdasarkan isi yang tersurat bukan yang dirasakan periset
b.
Tujuan
penggunaan analisis isi
McQuail (2000 dalam buku Kriyantono,
2014, h. 233) menjelaskan beberapa tujuan analisi isi antara lain:
1.
Mendeskripsikan
dan membuat perbandingan terhadap isi media
2.
Membuat
perbandingan antara isi media dengan relaitas sosial
3.
Isi
media merupakan refleksi daeri nilai-nilai sosial dan budaya serta sistem
kepercayaan masyarakat
4.
Mengetahui
fungsi dan efek media
c.
Tahapan
dalam analisis isi
1.
Menentukan
masalah
2.
Menyusun
kerangka konseptual untuk riset deskriptif (suatu konsep), atau kerangka teori
eksplanasi (lebih dari satu konsep)
3.
Menyusun
perangkat metodologi
Daftar
Pustaka
Kriyantono, R.
(2014). Teknik Praktis Riset Komunikasi.
Jakarta : Kencana Prenadamedia
Masalah :“apakah ada hubungan antara
sikap pemilih terhadap parpol dengan sikap orang tua terdadap parpol?”
Instrumen : sikap orang tua saya terhadap PAN
a.
SS
b.
S
c.
CS
d.
TS
e.
STS
Sampel : dipilih 100 siswa SMU
Jawab
: Riset tersebut tidak valid karena ada dua alasan.
1.
Instrumen
/kuesioner tidak sesuai dengan apa yang akan diukur atau diukur, karena kuesioner
menanyakan sikap orang tua akan tetapi ditanyakan kepada anaknya.
2.
Sampel
seharusnya mewakili remaja dan orang tua.
Daftar Pustaka
Kriyantono, R.
(2014). Teknik Praktis Riset Komunikasi.
Jakarta : Kencana Prenadamedia